Jumat, 02 Januari 2026

Mengapa Kesyahduan Ibadah Lebih Bermakna daripada Kembang Api di Tapanuli Tengah

Dalam penanganan pascabencana, istilah trauma healing atau pemulihan trauma sering kali disalahartikan sebagai sekadar pemberian hiburan. Sering kita melihat relawan datang membawa permainan, nyanyian, dan tawa untuk "melupakan sejenak" kesedihan. Meski niatnya mulia, pendekatan ini sering kali melupakan konteks budaya dan sosiologis masyarakat setempat.

Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera, khususnya Tapanuli Tengah, di penghujung tahun memberikan kita pelajaran penting: bahwa pemulihan psikologis tidak harus selalu identik dengan keriaan, apalagi pesta kembang api.

Konteks Budaya: Kearifan Lokal Tapanuli Tengah
Masyarakat Tapanuli Tengah yang mayoritas beragama Nasrani memiliki cara pandang yang khas dalam menyikapi pergantian tahun. Bagi komunitas ini, malam tahun baru bukanlah momen untuk pesta pora semata, melainkan momen sakral transisi waktu yang diisi dengan peribadatan (Misa atau Kebaktian Tutup Tahun dan Buka Tahun).

Dalam studi kasus penanganan korban bencana di wilayah ini, memaksakan hiburan umum seperti perayaan tahun baru dengan letusan kembang api justru bisa menjadi tindakan yang ahistoris dan tidak sensitif. Suara ledakan kembang api, bagi mereka yang baru saja lolos dari gemuruh longsor atau deru banjir bandang, berpotensi bukan menjadi hiburan, melainkan pemicu kecemasan (trigger) yang mengingatkan pada suara bencana.

Ibadah Sebagai Metode Trauma Healing yang Autentik
Narasi bahwa trauma healing haruslah sesuatu yang "menyenangkan" secara visual perlu dikoreksi. Bagi masyarakat religius di Tapanuli, ketenangan batin jauh lebih dibutuhkan daripada kegembiraan sesaat.
Misa atau kebaktian pergantian tahun sejatinya adalah mekanisme trauma healing yang paling ampuh bagi komunitas ini, karena mengandung unsur-unsur psikoterapi spiritual:

 * Validasi Emosi: Dalam ibadah, jemaat diajak untuk berserah. Ada ruang untuk menangis, meratap, dan menumpahkan kesedihan di hadapan Sang Pencipta. Ini adalah proses katarsis yang sehat.

 * Rasa Kebersamaan (Communal Coping): Berkumpul di gereja atau tenda darurat untuk berdoa bersama membangun perasaan senasib sepenanggungan. Mereka tidak merasa sendiri dalam penderitaan.

 * Harapan (Hope): Narasi keagamaan tentang "Tahun Baru" memberikan perspektif tentang awal yang baru, pemulihan, dan harapan pasca-krisis.

Oleh karena itu, memfasilitasi sarana ibadah yang layak di pengungsian jauh lebih krusial dibanding mendirikan panggung hiburan.

Rasionalitas Ekonomi: Logistik di Atas Simbolik
Selain aspek psikologis, ada argumen ekonomi yang tak kalah mendesak. Tradisi membakar kembang api memakan biaya yang tidak sedikit. Dalam situasi darurat bencana, setiap rupiah sangat berharga.
Sangat tidak etis jika langit diterangi oleh ledakan uang (kembang api) sementara di bawahnya para pengungsi masih kekurangan selimut, makanan bayi, atau obat-obatan. Dana yang dialokasikan untuk perayaan simbolik seyogyanya dialihkan sepenuhnya untuk pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.

Solidaritas sosial harus diterjemahkan dalam bentuk bantuan konkret. Uang kembang api dapat diubah menjadi paket sembako, perbaikan sanitasi, atau modal awal bagi mereka yang kehilangan harta benda. Ini adalah bentuk perayaan tahun baru yang paling nyata kasihnya.

Sudah saatnya kita mengubah paradigma penanganan bencana agar lebih peka budaya. Di Tapanuli Tengah, penguatan psikologis di malam pergantian tahun tidak membutuhkan gegap gempita kembang api.
Biarkanlah malam pergantian tahun dilalui dengan kesyahduan doa dan kidung pujian. Bagi para korban, trauma healing terbaik adalah ketika mereka bisa bersujud, bersyukur karena masih diberi keselamatan, dan merasakan hangatnya solidaritas sesama manusia tanpa harus terusik oleh ledakan petasan yang menghamburkan uang. Ibadah adalah penyembuhan, dan kepedulian logistik adalah bukti nyata persaudaraan.