Berdasarkan analisis topografi dari citra satelit, wilayah dengan bentuk depresi melingkar menyerupai mangkuk raksasa tersebut merupakan bukti nyata dari sisa letusan gunung api purba yang sangat masif. Kawasan ini dikenal sebagai KALDERA IJEN, yang membentang di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur.
Secara morfologis, topografi cekungan berukuran raksasa yang dibentengi oleh dinding terjal dan diisi oleh beberapa kerucut gunung api yang lebih muda di dalamnya merupakan indikator paling solid dari sebuah formasi kaldera bekas letusan super-eksplosif.
Konteks Era Geologi:
Meski menyandang nama "purba", Gunung Ijen Purba tidak terbentuk pada periode Eosen (sekitar 56 hingga 33,9 juta tahun yang lalu). Sebagai perbandingan geologis, produk vulkanik dan formasi batuan dari era Eosen hingga Oligosen-Miosen umumnya menyusun dasar sabuk Pegunungan Selatan (Southern Mountains). Singkapan dari masa ini lebih sering dijumpai dalam bentuk batuan gamping campur fosil laut atau batuan vulkanik tua seperti di kawasan tebing purba Sungai Oya atau formasi di Nawung, Gayamharjo.
Sebaliknya, deretan gunung api aktif di Busur Sunda saat ini, termasuk GUNUNG IJEN PURBA, terbentuk pada zaman Pleistosen (bagian dari periode geologi Kuarter). Usianya jauh lebih muda secara geologis dibandingkan batuan purba di Pegunungan Selatan.
Sejarah pembentukan kompleks Ijen hingga menjadi lanskap yang terlihat pada citra saat ini dapat dibagi ke dalam tiga fase utama:
1. Fase Pertumbuhan (Pleistosen Tengah, ~300.000 tahun lalu)
Aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia memicu naiknya magma yang membangun satu tubuh *stratovolcano* raksasa tunggal, yakni Gunung Ijen Purba. Tubuh gunung ini terus tumbuh meninggi selama ratusan ribu tahun hingga diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 3.500 mdpl.
2. Fase Kalderisasi dan Runtuhnya Gunung (Pleistosen Akhir, ~70.000 tahun lalu)
Gunung raksasa ini mengalami erupsi super-eksplosif (sekelas letusan Toba atau Krakatau), memuntahkan jutaan kubik material vulkanik. Erupsi masif ini mengosongkan dapur magma di perut bumi. Akibatnya, struktur atas gunung tidak lagi kuat menahan beban lalu ambles, menciptakan cekungan berdiameter sekitar 15-20 kilometer.
Cekungan hasil amblesan ini menjadi lantai kaldera purba, tempat daerah Biau berada.
Dinding Kaldera (Caldera Rim), Garis punggungan melengkung berwarna hijau tua di sisi utara hingga barat adalah sisa dinding kaldera bagian utara. Area Kajumas dan Pasewaran berada di bagian luar lereng dinding kaldera purba ini.
3. Fase Pasca-Kaldera (Holosen hingga sekarang)
Setelah runtuh, aktivitas magma tidak sepenuhnya mati. Rekahan pada lantai kaldera purba menjadi jalan bagi keluarnya magma baru, membentuk lebih dari 20 kerucut vulkanik sekunder (post-caldera cones) di dalam dan di pinggiran kaldera, seperti Gunung Merapi Ijen, Gunung Suket, dan Gunung Rante.
Kawah Ijen: Fitur paling mencolok di bagian tenggara citra, berupa kawah dengan danau berwarna toska terang, adalah salah satu kerucut vulkanik muda dari fase ini. Kawah Ijen tetap aktif hingga kini, memiliki tingkat keasaman ekstrem, dan menjadi lokasi fenomena gas belerang terbakar (blue fire).